Dunia pendidikan islam di Indonesia kini sudah
semakin berfariatif, khususnya bidang kepesantrenan. Berbagai sistem dengan beragam
fokus yang berbeda beda kian bermunculan. Mulai dari pondok yang berfokus terhadap
bahasa asing, tahfidz quran, dakwah, qiroat, dan lain-lain. Tetapi tentunya tidak
menafikan pendidikan agama yang menjadi substansi utama dalam dunia kepesantrenan.
Yang menjadi kekhawatiran di masa kini adalah bermunculannya
pondok-pondok yang terlalu “terobsesi” degan “ciri khas” kepondokkannya dan melupakan
pentingnya inti dari sebuah pondok pesantren. Sungguh mengkhawatirkan jika ternyata
seorang lulusan pesantren yang begitu mahir dan fasih dam berbicara di khalayak
banyak tetapi keilmuan yang ia miliki belum begitu memadai. Mungkin dia akan menjadi
seorang penceramah besar. Sungguh memprihaitinkan bukan, karena dakwah itu bukan
sekedar berbicara tapi juga harus di dukung dengan keilmuan yang mumpuni. Dan
sungguh miris ketika ada seorang lulusan pesantren yang begitu lancarberbicara bahasa
arab tetapikurang begitu faham dengan kaidah-kaidah agama. Mungkin dia akan mengartikan
al-quran melalui teks nya saja secarad zohir. Sedangkan kita tahu bahwa
Al-Quran tak bisa hanya dipandang sebagai bacaan saja meskipun secara bahasa memang
artinya bacaan.
Dari perspektif lain, tak bisa dipungkiri bahwa
skil dalam (misal) berbahasa asing, berpidato, ber-qiroat, bahkan menguasai
IPTEK memiliki peranan penting dalam perkembangan islam dari masake masa.
Tetapi penulis disini berbicara tentang pesantren bukan “tempat les”. Karena jika
tujuan seorang calon santri ke pesantren Cuma ingin mahir (missal) berbahasa asing
atau ber-orasi, kenapa tidak masuk tempat les saja atau mengikuti pelatihan-pelatihan
yang umum dilaksanakan.Toh kenyataannya banyak pula ko santri jebolan pesantren
bahasa tetapi ternyata bahasa dia pun masih kurang.










