Memang tak diragukan
lagi besar dan tulus nya kasih sayang orang tua kepada anak anaknya. Karena itu
semua sudah menjadi fitrah makhluq dalam kehidupan ini. Bahkan sang penguasa
hutan pun pasti selalu melindungi anak anaknya dari predator lain. Apa lagi,
kita adalah manusia. Makhluq yang memang berbeda dari semua makhluq. Yang
diciptakan Allah dengan ahsantaqwiim sebagai mana di sebutkan dalam surah atthin.
Tentu saja makhluk ini memiliki hal yang istimewa dari yang lain, yakni hati dan
fikiran.
Mungkin manusia
memang dikenal oleh alam sebagai makhluq yang sangat angkuh dan egois. Mereka menghakimi
alam ini demi kepuasan mereka. Tetapi ternyata tak ada yang bisa memungkiri bahwa
si egois itu masih memiliki cinta, masih memiliki peduli dan kasih sayang kepada
sekitar nya terlebih lagi dia yang notabene darah dagingnya sendiri. Seakan ada
urat transparan diantara mereka. Orangtua pasti lemas menangis kala buah
hatinya menangis, mereka sakit kala mendengar putranya dalam kesulitan. Mereka marah
dikala putrid nya disentuh seorang pemuda. So.. kenapa mereka begitu mudah merasakan
apa yang anak nya rasakan? apa yang menghubungkan mereka??? Manusia pasti tau
jawabannya, tapi jarang yang bisa menjelaskan hal itu. Yaa..itulah Cinta.
Karena orang tua pasti memiliki cinta untuk penerus diri nya “karena dia adalah
diriku” sebagian dari mereka berucap demikian.
Pelan dan pasti,
begitulah berlalunya waktu kita di dunia ini. Sehingga kita tak sadar mereka semakin
layu bak pohon yang dulu rindang memayungi kita dan sekarang layu digerogoti usia,
bertahan akan panasnya cahaya langit dengan susah payah. Sobat… saat ini kita bukan
lagi tunas, kita adalah pohon yang terus bertumbuh dan rindang dengan harapan bisa
memayungi pohon layu yang dulu memayunginya. Benar, kan??? Tapi dengarlah apa
yang pohon layu itu katakan. Ternyata dia lebih bahagia kala tunas kecil yang
dulu ia besarkan bisa memayungi dan melindungi semua pohon yang ada dikebun itu.
Siapkah kita? Kira-kira… Siapkah kita menjadi yang mereka inginkan dengan kehendak
kita untuk nyaman-nyaman saja di masa mudaini? Kita pasti tahu bahwa pohon yang
dicangkok (dengan harapan mendapatkan buah dalam waktu yang cepat) tak bisa tumbuh
tinggi dan berusia lebih pendek. Berbeda dengan pohon yang tumbuh dari biji,
tunas, kemudian menjadi pohon kecil yang terus berjuang bersama jarum jam yang
berdetik untuk tumbuh besar dan rindang sehingga kita bisa menemuinya tumbuh menjulang
tinggi di belantara.
Lalu apakah kita
ini ranting yang akan menunggu dicankok ataukah tunas yang akan berjuang menjadi
pohon yang tinggi?






0 komentar:
Posting Komentar